Profile

Pembalap Perempuan Indonesia, Sheva Ardiansyah, Terus Tunjukkan Kebolehannya hingga Jadi Juara Internasional

By: Delisti Putri Utami | 28/12/2022
Pembalap Perempuan Indonesia, Sheva Ardiansyah, Terus Tunjukkan Kebolehannya hingga Jadi Juara Internasional

NEWS.VMX.ID – Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah itulah yang menggambarkan sosok Sheva Anella Ardiansyah, pembalap motocross perempuan asal Yogyakarta. Bakat balapnya sendiri mengalir dari sang ayah, Irwan Ardiansyah, yang merupakan legenda balap Indonesia yang selama 7 tahun berturut-turut menjadi juara nasional motocross.

Meski darah pembalap mengalir di tubuhnya, perjuangan Sheva untuk jadi pembalap tidaklah mudah. Awalnya, keluarga, terutama sang ayah, tidak mengizinkan Sheva terjun ke dunia balap. 

Ayah pembalap kelahiran 16 Juli 2006 ini paham betul risiko menjadi seorang pembalap, terlebih Sheva adalah seorang perempuan. Saat itu juga sulit bagi perempuan untuk balap di Indonesia karena tidak ada kelas perempuan. Jika pun mau, Sheva harus bertarung melawan para laki-laki atau ikut balap kelas perempuan di luar negeri.

Meski diawali oleh penolakan, semangat dan kegigihan Sheva untuk bermain motor dan balap tidak pudar. Ia terus berusaha meyakinkan kedua orang tuanya hingga akhirnya mereka luluh dan mengizinkan Sheva bermain motor. Pada 2010 Irwan Ardiansyah selaku ayah Sheva mulai mengajari Sheva balap.

Di usianya yang masih sangat belia Sheva sudah mendapatkan penanaman mental yang kuat, kedisiplinan, teknik balap yang baik dan benar, serta pembentukan fisik yang kuat oleh sang ayah.

Meskipun terkadang tidak mengajari Sheva secara langsung, ayah Sheva selalu memperhatikan cara berkendara dan perkembangan kemampuan Sheva. Setelah dilihat, ternyata, Sheva menunjukkan kemampuan yang tidak biasa dan talentanya ini bisa dikembangkan ke arah profesional serta bersaing dengan para pembalap laki-laki.

Ketertarikan pembalap yang saat kecil bermimpi untuk bisa berpartisipasi dalam Kejuaraan Dunia Women Motocross terhadap dunia balap sendiri bermula dari kebiasaannya melihat sang ayah latihan. Dapat dikatakan bahwa ayahnya inilah yang menginspirasi pembalap dengan nomor start 75 untuk menjadi pembalap juga.

Sheva yang lahir dan tumbuh di keluarga pembalap terus giat berlatih. Baginya, memacu kecepatan dan menaklukkan rintangan di lintasan bukan sekadar hobi, tetapi juga tunggangan untuk mengejar prestasi. Nyalinya yang besar dan kemampuannya yang mumpuni dalam menunggangi kuda besi di lintasan di usianya yang masih kecil saat itu bahkan boleh diadu dengan orang dewasa.

Pada 2012, tepatnya saat berusia 6 tahun, Sheva meminta orang tuanya untuk membelikannya motor KTM. Tahun itu pula menjadi tahun pertama ia mengikuti kejuaraan motocross. Saat itu ia mengikuti kejuaraan motocross kelas 50cc di Yogyakarta. Masih terekam dalam benaknya, ia hanya bisa finis di urutan terakhir.

Kegagalannya dengan finis di urutan terakhir tidak menyurutkan langkah Sheva untuk terus berpacu dan bermain motocross. Saat itu ia semakin rutin latihan setiap minggunya dari pukul 15.00-17.00. Hasilnya pun tidak sia-sia. Ia mulai bisa menduduki podium dan bersaing dengan para pembalap laki-laki.

Potret Sheva Ardiansyah saat berada di sirkuit (Foto: instagram.com/shevaardiansyah75)

Pertama kali Sheva berhasil meraih podium adalah di kejuaraan Powercross yang berlangsung di Malang. Saat itu ia berhasil duduk di podium ke-4 kelas 50cc. Hingga sekarang, momen tersebut jadi salah satu momen paling berkesan selama perjalanan kariernya di dunia balap. Momen berkesan lainnya adalah saat ia berhasil menempati podium pertama untuk pertama kalinya, yaitu pada 2014 di Ambarawa.

Ketika naik ke kelas 65cc Sheva telah mengikuti puluhan kejuaraan balap motocross, bahkan saat itu ia masih tercatat sebagai pembalap perempuan satu-satunya di kelas 65cc. Di kejuaraan motocross kelas 65cc pertamanya, Sheva berhasil meraih podium 2.

Pembalap yang saat ini sedang berada di kelas 125cc ini dikenal dengan teknik riding-nya yang di atas rata-rata. Ia juga termasuk pembalap tiga besar terbaik nasional di kelas yang diikutinya.

Untuk bisa mengembangkan kemampuan balapnya, Sheva selain mengikuti training di sekolah balap milik keluarganya, juga mengikuti training motocross di luar negeri. Pada 2018 ia menimba ilmu balap di Jim Holley Motocross Training Camp di Amerika Serikat dan awal 2019 di Spanyol.

Selain untuk memperdalam teknik balap, training di luar negeri juga bertujuan untuk mencoba pengalaman baru, terutama pengalaman di medan dengan karakter tanah yang berbeda-beda.

(Dari sebelah kiri) Sheva, Azryan Dheyo, dan Nakami (Sumber foto: instagram.com/shevaardiansyah75)

Pembalap yang penampilannya selalu ditunggu-tunggu di setiap event ini sudah unjuk gigi di puluhan event tingkat nasional dan tidak sedikit yang berhasil meraih podium. Selain yang telah disebutkan sebelumnya, Sheva juga sempat meraih peringkat kedua kelas 65cc Novice Kejurnas Motocross di Cibinong, 2018 peringkat 1 Indiel Series kelas 50cc 2 Tak di Semarang, peringkat 4 Kejuaraan GTX & MX Championship RD 1 kelas 50cc 2 Tak di Blitar, dan lain-lain.

Selain di kejuaraan nasional motocross, Sheva juga rajin menyabet prestasi di ajang internasional. Pada April 2019 ia berhasil meraih podium 1 Loretta Lynn Area Qualifier Los Angeles, pada Mei 2019 podium 4 Supercross Future Las Vegas, pada Kejuaraan Mini Major 2021 ia juara di kelas Girls 85/Supermini 12-16 tahun dan posisi ke-12 di kategori 3 Open melawan banyak pembalap laki-laki.

Selain itu, Sheva juga mampu tampil kompetitif di SwapMoto Amsoil Fall Classic California. Ia keluar sebagai juara di kelas Women Open 125/250F dan podium ketiga di kategori School Boy secara keseluruhan.

Sheva memang telah banyak menorehkan prestasi. Namun, perjalanannya menuju podium tidak selalu mulus. Tidak jarang insiden hingga cedera mendera Sheva, bahkan trauma sempat menghantuinya. 

Saat berusia 14 tahun untuk pertama kalinya, ia mengalami cedera patah tulang dan pada September 2022 lalu ia kembali mengalami cedera bergesernya otot penyangga tulang. Namun, semua itu tidak lantas membuat Sheva berhenti. Setelah proses pemulihan, ia berencana  kembali ke lintasan dan akan berpacu hingga waktu yang belum ditentukan.