Soroti Fisik M. Athar di Kejurnas Motocross Sumedang, Mahasiswa Kepelatihan Fisik Olahraga Beberkan Analisisnya
SUMEDANG, [Tanggal Upload] – Gelaran Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Motocross 2026 Round 3 yang berlangsung di Sirkuit Cambora, Sumedang, Jawa Barat, tidak hanya menyajikan persaingan sengit antar-crosser papan atas. Dari sisi ilmiah, ajang ini juga menjadi laboratorium hidup bagi para mahasiswa program studi Kepelatihan Fisik Olahraga untuk membedah ketahanan biomotorik para atlet elite di lintasan ekstrem.
Salah satu yang menarik perhatian tim analis adalah performa pembalap muda andalan nasional, M. Athar Al-Ghifari. Turun di kelas bergengsi, penampilan Athar menjadi objek analisis krusial, terutama mengenai bagaimana sang pembalap mengelola kondisi fisiknya pasca-pulih dari cedera di awal musim 2026.
Sirkuit Cambora: Ujian Berat Sistem Energi Atlet
Sirkuit Cambora dikenal memiliki karakter tanah yang menantang dengan elevasi naik-turun khas perbukitan Sumedang. Menurut analisis kepelatihan fisik, sirkuit ini menuntut kombinasi kapasitas biomotorik yang sangat kompleks. Motocross dikategorikan sebagai high-intensity intermittent sport, di mana sistem energi dominan yang bekerja adalah gabungan antara Anaerobik Laktat saat melakukan sprint selepas start (holeshot) dan kapasitas Aerobik yang kuat untuk mempertahankan fokus di lap-lap akhir.
“Selama balapan yang berdurasi sekitar 20 hingga 30 menit, jantung atlet dipaksa bekerja di zona intensitas tinggi secara konstan. Di sinilah kapasitas VO2 Max dan manajemen fatigue (kelelahan) seorang crosser benar-benar diuji,” ujar perwakilan mahasiswa analis Kepelatihan Fisik Olahraga.
Analisis Performa M. Athar: Core Stability dan Power Endurance yang Impresif
Fokus analisis tertuju pada adaptasi neuromuscular Athar Al-Ghifari yang dinilai sangat impresif. Meski baru saja melewati fase pemulihan cedera dan langsung beradaptasi dengan pacuan barunya, Athar menunjukkan kualitas fisik yang matang melalui beberapa indikator:
- Stabilitas Otot Inti (Core Stability): Saat melibas handicap berupa whoops (tanggul kecil berurutan) di Cambora, otot core (abdominal dan erector spinae) serta kekuatan genggaman tangan (grip strength) Athar bekerja secara eksentrik dan isometrik sekaligus, sehingga ia mampu meredam getaran motor tanpa kehilangan momentum kecepatan.
- Daya Tahan Kekuatan (Power Endurance) Tungkai: Pada tikungan-tikungan tajam (berm turns), Athar secara konstan mempertahankan posisi half-squat di atas motor. Kemampuannya melakukan pumping (menekan motor ke bawah untuk mendapatkan traksi maksimum) secara berulang-ulang membuktikan bahwa muscular endurance otot quadriceps dan hamstrings-nya berada pada level prima.
- Manajemen Arm Pump: Gejala kekakuan pada lengan bawah akibat akumulasi asam laktat (arm pump) yang sering menjadi momok di Sirkuit Cambora mampu diantisipasi dengan baik oleh Athar melalui efisiensi posisi tubuh (body positioning) saat motor melayang di udara (jumping).
Rekomendasi untuk Sisa Musim Ragam Seri 2026
Dari kacamata ilmu kepelatihan, penampilan impresif Athar di Sumedang mengonfirmasi bahwa program pemulihan fisik (rehabilitation & reconditioning) yang ia jalani sebelumnya berjalan sukses dan mampu mengembalikan fungsi gerak secara penuh (functional movement).
Namun, untuk menghadapi seri-seri selanjutnya di Kejurnas 2026, tim analis merekomendasikan agar Athar tetap menjaga intensitas latihan cardiorespiratory pada zona tinggi, dikombinasikan dengan proprioceptive training (latihan keseimbangan dan koordinasi saraf) guna meminimalkan risiko cedera berulang akibat kelelahan kronis di sisa musim kompetisi.
Penulis: [Mahasiswa Kepelatihan Fisik Olahraga]

