Profile

Intip Kunci Transformasi Agha Riansyah Menjadi Pembalap Motocross Profesional

By: Delisti Putri Utami | 19/10/2022 | 767
Intip Kunci Transformasi Agha Riansyah Menjadi Pembalap Motocross Profesional

NEWS.VMX.ID – Bertransformasi menjadi pembalap yang mempunyai kelebihan khusus merupakan eksistensi yang dibagun oleh pembalap motocross asal Pasuruan, Jawa Timur, Agha Riansyah. Pembalap yang kini eksis dan bernaung di bawah 76Rider ini mengukuhkan eksistensinya sebagai pembalap dengan kelebihan khusus di bidang freestyle.

Kelihaiannya memainkan trik heel clicker, trik yang selalu Agha Riansyah mainkan di setiap event yang diikuti, pada saat melakukan freestyle membuat ia dijuluki sebagai “The Heel Clicker”. Penyematan julukan ini secara fakta telah turut mengukuhkan identitas Agha Riansyah sebagai pembalap dengan eksistensi penguasaan yang baik terhadap trik heel clicker

Banyaknya pembalap yang kemudian mulai menunjukkan kebolehannya melakukan trik tersebut menjadi bukti bahwa Agha Riansyah telah menginspirasi pembalap lain untuk melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, untuk menjaga keunikan eksistensinya dalam melakukan freestyle, Agha Riansyah mengganti dan mengeksplor trik freestyle lainnya. Kini di setiap event ia akan menunjukkan trik freestyle yang berbeda tergantung pada situasi saat ia berada di lintasan.

Aksi Agha Riansyah saat melakukan freestyle (doc. pribadi)

Pembangunan identitas pembalap dengan kemampuan khusus di bidang freestyle sendiri bermula dari kebutuhan Agha Riansyah akan identitas yang bisa membedakannya dari pembalap lain. Pada waktu itu, tepatnya 2014 lalu, ia melihat bahwa freestyle merupakan hal yang unik, asyik, banyak cela untuk mendapatkan rezeki, dan jarang sekali ada pembalap yang bisa melakukannya. Karena merasa tertantang dan itu merupakan hal baru baginya, ia pun mencoba menyelami dunia freestyle.

Pada saat pertama kali menunjukkan kebolehannya melakukan freestyle sebagai bentuk selebrasi pada saat memasuki garis finis ternyata Agha Riansyah mendapatkan respons positif. Banyak orang yang terhibur dan menyukai aksinya.  Atas dasar ini pulahlah ia kemudian mengulik lebih dalam dunia freestyle secara otodidak dengan mencari referensi dari YouTube. Setelah mencari referensi dari YouTube, ia akan mencari-cari sendiri trik yang pas untuk kemudian ia implementasikan.

Potret Agha Riansyah saat menjadi stuntman (doc. pribadi)

Freestyle bagi Agha Riansyah sudah seperti oasis yang membahagiakan karena selain telah menjadi bagian dari identitas pakemnya sebagai pembalap, freestyle telah mengantarkannya menuju karier di dunia balap yang lebih cemerlang. Ia mengakui bahwa sejak menekuni freestyle, kariernya di dunia balap semakin diakui, bahkan kemampuannya ini juga diakui oleh dunia luar selain balap. Hal ini terbukti dari banyaknya job yang ia dapatkan seperti menjadi stuntman untuk kebutuhan komersial iklan dan televisi. 

Terhitung sejak 2005 hingga saat ini Agha Riansyah sudah berkarier di dunia balap motocross selama 17 tahun. Kebiasaannya saat kecil ikut sang ayah kumpul di bengkel menumbuhkan rasa ketertarikannya terhadap dunia otomotif. Kecintaannya terhadap dunia otomotif yang semakin besar inilah yang kemudian membuat ia memutuskan untuk menjadi seorang pembalap meski tidak memiliki latar belakang keluarga yang juga terjun ke dunia balap.

Dua tahun awal, yaitu 2005 dan 2006 Agha Riansyah sekadar ikut-ikutan dalam event motocross yang ada di sekitar Pasuruan untuk mendapatkan pengalaman dan mempelajari dunia balap langsung dari lintasan. Baru kemudian pada 2008 ia mulai serius mengikuti kejuaraan, tepatnya kejuaraan nasional. Pada kejuaraan nasional pertamanya ini ia belum bisa menduduki podium. Ia hanya bisa masuk di jajaran sepuluh besar. 

Kejuaraan pertama yang serius diikutinya ini menjadi ajang Agha Riansyah untuk belajar, memperbanyak jam terbang, dan pengalaman. Dengan begitu, ke depannya ia bisa menjadi pembalap profesional yang lebih baik, baik dari segi kemampuan maupun mental.

Perjalanan awal Agha Riansyah menekuni dunia balap motocross terbilang penuh pengorbanan. Tidak adanya sekolah balap di Pasuruan, tempat tinggalnya pada waktu itu, membuat ia harus bermigrasi ke Kediri. Di Kediri, tempat tinggalnya saat ini,  ia mengembangkan kemampuan balapnya di sekolah balap Nugroho Motocross Training (NMT). Tiap akhir pekan ia harus pulang pergi Pasuruan-Kediri agar bisa belajar balap motocross.

Selain dengan sekolah balap, Agha Riansyah mengembangkan kemampuan balapnya dengan sering melakukan latihan. Dalam kurun waktu satu minggu, ia bisa latihan 3-4 kali. Biasanya ia latihan bersama rekan sesama pembalap yang kemampuannya lebih baik darinya. Ia juga biasa latihan dengan rekan yang mengikuti kelas yang sama dengannya. Hal ini dilakukan Agha Riansyah agar ia bisa mengukur perkembangan kemampuan balapnya.

Usaha Agha Riasnyah mengembangkan kemampuan balap ternyata berbuah manis. Ketekunan dan semangat untuk terus belajar telah membuatnya jadi pembalap profesional dengan banyak prestasi. Salah satu prestasi yang paling membekas dan meninggalkan kesan yang sangat baik di benaknya adalah ketika ia pertama kali menjadi juara umum dan menempati podium paling atas dalam ajang kejuaraan nasional untuk motocross yang diselenggarakan pada 2009 lalu. Momen inilah yang kemudian melecutnya untuk jadi pembalap yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Agha Riansyah saat beraksi di trek (doc. pribadi)

Talenta dan sepak terjang Agha Riansyah di dunia balap motocross patut diapresiasi. Selama 17 tahun malang-melintang di dunia balap motocross, Agha Riansyah telah mengikuti banyak kejuaraan motocross, mulai dari tingkat lokal, daerah, sampai nasional. Pada beberapa kesempatan ia juga mengikuti kejuaraan motocross di luar Indonesia seperti Brunei dan Malaysia. Pada saat mengikuti kejuaraan motocross di Malaysia, ia bahkan berhasil menempati podium pertama di kelas MX2 Open.

Banyaknya kejuaraan yang diikuti membuat mental balap Agha Riansyah semakin kuat. Baginya, kemenangan dan kekalahan sudah menjadi makanan sehari-hari. Prestasi lain yang pernah ditoreh oleh Agha Riansyah adalah 1st Position in Champion of Indonesian Class MX2 Novice 2009, 1st Position in Champion of Indonesian Class MX2 Novice 2010, 3rd Position in Overall Indonesian Championship Class MX2 Junior pada 2011, 1st Position in Champion Indonesia Enduro Competition pada 2012, 3rd Position in Campuran Open Series 2 Trial Game pada  2014, 1st Position in FIM Asia Supermoto Class Superstock pada 2016, dan masih banyak lagi.

Menjadi pembalap bagi Agha Riansyah adalah belajar untuk berkompetisi secara sportif dan mempunyai ketahanan mental serta fisik yang baik. Tiga hal yang juga bisa diterapkan di luar dunia balap. Baginya, mental sangat penting dan menjadi salah satu modal utama untuk menjadi seorang pembalap. Tanpa mental yang baik, kemampuan balap yang bagus belum cukup untuk bisa memenangkan sebuah kompetisi. Untuk memperoleh mental, khususnya kepercayaan diri yang baik ini, Agha Riansyah perlu mengikuti banyak kejuaraan. Dengan begitu, kepercayaan diri dan mentalnya bisa semakin kuat.

Empat prinsip yang selalu dipegang teguh oleh Agha Riansyah selama menjadi pembalap adalah sportivitas, kejujuran, kedisiplinan, dan tidak membatasi diri untuk mempelajari hal baru. Ia meyakini bahwa keempat hal tersebut adalah kunci agar dapat menjadi pembalap yang sesungguhnya dan andal. Selain itu, keempat hal itu pulalah yang bisa memberikan efek jangka panjang terhadap karier di dunia balap karena balap tanpa sportivitas, kejujuran, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar hanya akan menghilangkan esensi jadi pembalap itu sendiri.

Kedisiplinan yang menjadi salah satu prinsip yang dipegang teguh oleh Agha Riansyah di sisi lain juga menjadi tantangan terbesarnya selama jadi pembalap. Tantangan terbesarnya terletak pada keteraturan dalam menjalankan kedisiplinan saat latihan, menjaga stamina fisik, dan gaya hidup. Apabila tidak disiplin di ketiga hal ini, performanya bisa menurun. Selain masalah kedisiplinan, tantangan terbesar lain yang harus dihadapinya adalah soal kesabaran. Dalam dunia balap, kesabaran itu penting. Apabila tidak sabar dalam menjalani setiap prosesnya, maka tidak akan pernah bisa jadi pembalap yang baik dan andal, apalagi mencapai karier yang gemilang.

Sejak tiga tahun yang lalu pembalap kelahiran 8 Mei 1992 ini selain latihan dan ikut kejuaraan balap juga aktif melatih pembalap. Pembalap yang dilatihnya berasal dari berbagai tempat. Ada yang datang sendiri menemuinya, juga ada yang dilatih di sekolah tempat ia belajar balap dulu, yaitu Nugroho Motocross Training. Hal ini ia lakukan selaras dengan prinsip hidupnya untuk bermanfaat bagi orang lain dengan cara membagikan ilmu yang ia miliki.

Ke depannya pembalap yang ingin tetap bisa berada di bidang otomotif ini ingin terus membantu perkembangan motocross, dunia yang telah membesarkan namanya, dengan membuka pelatihan, mempunyai tim sendiri, atau mencari sponsor. 

Kepada para pembalap yang baru melebarkan sayapnya di dunia balap, Agha Riansyah berpesan agar mereka membuat target yang ingin diraih. Apakah hanya untuk senang-senang atau ingin jadi juara. Apabila tujuan dan targetnya sudah jelas, baru membuat program untuk mencapai semua itu. Dengan begitu, mereka akan tetap semangat, terarah, dan mempunyai kontrol untuk menjadi pembalap yang andal.