Apa Kata Para Pengamat Motocross Soal Perubahan Cabor Motocross Menjadi Grasstrack dalam PON XXI 2024 Aceh-Sumut?

By: VMX Media | 25/05/2023
Apa Kata Para Pengamat Motocross Soal Perubahan Cabor Motocross Menjadi Grasstrack dalam PON XXI 2024 Aceh-Sumut?
Tjok Vicky Sudharsana, pemilik Bali MX

BANDUNG, VMXMedia.ID –  Grasstrack menjadi salah satu dari dua cabor bermotor yang akan diperlombakan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2024 Aceh-Sumut mendatang. Berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum KONI  Pusat yang dirilis pada Oktober 2022, secara resmi grasstrack menggantikan cabor motocross, yang sebelumnya dipertandingkan dalam PON XX Papua.

Menurut Eddy Saputra, Direktur Off-Road Bidang Olahraga Sepeda Motor IMI Pusat, sebagaimana dilaporkan mobilina.com, penggantian cabor motocross menjadi grasstrack  ini salah satunya bertujuan agar seluruh Pengprov IMI se-Indonesia bisa berpartisipasi, karena harga motor grasstrack lebih terjangkau dibandingkan dengan motocross

Tentu keputusan perubahan cabor ini kemudian menuai beragam tanggapan dari kalangan pengamat motocross Indonesia. Salah satu tanggapan yang muncul adalah rasa kekecewaan dan ketidaksetujuan, seperti yang disampaikan Ary H., wakil pemilik 76 Team Harimau Sumatera.

Menurutnya, jika ingin meningkatkan jenjang karier pembalap Indonesia ke arah yang lebih tinggi, tidak hanya nasional, melainkan juga internasional, pengembangan motocross di event perlu dilakukan. Misalnya, menjadi cabor di PON. 

“Sebenarnya tidak ada yang secara spesifik salah dalam keputusan ini. Namun, perlu ada pertimbangan lebih lanjut. Selain itu, untuk peningkatan kualitas otomotif Indonesia dan perkembangan motocross yang saat ini sedang meredup, volume event perlu diperbanyak. Dengan begitu, pembalap-pembalap motocross bisa bertambah. Semoga hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan untuk PON berikutnya. Yang tidak kalah penting, ini bisa menjadi ajang pembinaan para pembalap grasstrack ke motocross, bukan sebaliknya,” jelasnya.

Hal serupa juga disampaikan Tjok Vicky Sudharsana, pemilik Bali MX. Ia menilai perlu adanya pertimbangan mengenai jenjang kompetisi pembalap ke depannya. “Secara biaya, memang betul grasstrack lebih murah dibandingkan dengan motocross. Dengan catatan, jika motor yang digunakan itu motor standar. Kalau motornya dimodifikasi sedemikian rupa, biayanya jelas hampir sama dengan saat kita membeli motor special engine. Motocross memang agak berat untuk memungkinkan semua orang bisa main di dalamnya. Namun, dari segi jenjang ke depannya, motocross sangat bagus untuk para pembalap,” ungkapnya.

Namun, di sisi lain, Tjok Vicky juga melihat perubahan ini sebagai peluang yang baik bagi perkembangan grasstrack sebagai olahraga motor lokal Indonesia. Popularitas grasstrack dapat terus mengalami peningkatan. Dengan begitu, potensi talenta baru juga dapat ditemukan.

Kendati demikian, menurutnya, hal ini perlu diimbangi dengan kesiapan tim atau penyelenggara dalam hal pengadaan motor yang tepat. Hal ini bertujuan agar pembalap yang mampu bersaing dan berada di depan tidak hanya itu-itu saja.


Lebih lanjut, Tjok Vicky menilai, di sisi lain penggantian cabor ini juga memberikan keuntungan kepada pembalap-pembalap motocross yang sudah terlatih dan berprestasi. Jika mereka turut bermain di cabor grasstrack  dan motor yang digunakannya adalah motor standar, mereka pasti akan lebih siap untuk berkompetisi. (dpu)